kegiatan

Riset Matik hibah Pemda Pekalongan Kota

Keamanan pangan (food safety) pada dekade belakangan ini telah menjadi isu nasional dan internasional. Makin tinggi pengetahuan dan kemampuan ekonomi masyarakat makin tinggi pula kecenderungan menuntut pangan yang lebih aman untuk dikonsumsi (Fardiaz, 2008). Penggunaan bahan pengawet sintetis pun menjadi kontroversi bagi banyak kalangan masyarakat. Beberapa bahan pengawet sintetis dapat berpotensi meracun bagi tubuh manusia (Fauzan dan Sugeng, 2013).

Valianty et al., (2003) menyatakan bahwa, kurang lebih 20 persen dari suplai pangan di dunia tidak dapat digunakan akibat kerusakan mikrobiologis dan selama ini bahan pengawet yang digunakan untuk mencegah kerusakan tersebut adalah bahan pengawet sintetis yang cukup berbahaya bagi kesehatan manusia. Badan POM RI menyatakan bahwa lebih dari 60 persen makanan yang dijual di sekolah memiliki kandungan zat-zat yang berbahaya, seperti formalin yang ditambahkan pada bakso, mie basah dan tahu (Kompas, 2013).

Menurut Food and Drug Administration America, bahan-bahan yang tidak tergolong ke dalam bahan pengawet sintetis adalah gula, garam, cuka, rempah-rempah, ekstrak minyak rempah-rempah dan komponen pengasapan dari kayu (Branen dan Davidson, 1983). Indonesia merupakan negara yang kaya dengan sumber hayati. Kusumawati et al. (2003) menyatakan bahwa flora Indonesia sangat kaya dengan berbagai spesies dan keanekaragamannya. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan di Bogor mempunyai lebih dari 4.000 spesies dalam 668 genus yang termasuk dalam 111 famili. Sumber hayati tersebut salah satunya berfungsi sebagai tanaman obat yang memiliki sifat antimikroba. Kondisi ini memberi peluang baru untuk mengembangkan bahan pengawet alami yang memiliki kemampuan antimikroba melaui eksplorasi berbagai tanaman obat, diantaranya legetan warak (Adenostemma lavenia L.) sebagai sumber bahan pengawet alami.

Legetan warak dipilih sebagai sumber senyawa antimikroba alami berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan di masyarakat Pekalongan dan sekitarnya yang memanfaatkan legetan warak sebagai obat radang tenggorokan dan obat penurun panas. Menurut Kusumawati et al. (2003), legetan warak mengandung senyawa golongan flavanoid dan alkaloid. Tanaman ini biasa digunakan sebagai obat batuk, murus dan obat tenggorokan. Ajiningrum (2011) menambahkan bahwa legetan warak dapat digunakan sebagai obat diare, sakit gigi, kulit, sariawan dan menguatkan jantung. Pemanfaatannya sebagai obat alami telah lama diketahui, namun pemanfaatannya belum dilakukan secara maksimal.

RISET TEMATIK

Leave a Comment